Minggu, 04 Juli 2010

Konsep Diri Berbahasa Dalam Sebuah Dimensi Psikologis

Konsep Diri Berbahasa Dalam Sebuah Dimensi Psikologis

Konsep Diri Berbahasa : Dimensi Psikologis Penggunaan Bahasa Pada Penutur Bahasa Banyumasan



Berbicara mengenai kelestarian sebuah bahasa terutama bahasa daerah, Suhardi (Masinambow & Haenen, 2002) mengungkapkan adanya kekhawatiran dari kalangan pendidik serta pengamat masalah bahasa terutama mengenai pemakaian bahasa pada anak muda yang menunjukkan gejala makin berkurangnya kemampuan berbahasa daerah khususnya anak muda yang tinggal di kota-kota besar.

Berkaitan dengan permasalahan di atas, salah satu bahasa yang berpotensi mengalami kepunahan (potentially endangered languages) adalah bahasa dan dialek Banyumasan, kondisi ini sesuai dengan penjelasan Grimes (Probonegoro,2005) yang menyebutkan suatu bahasa mengalami kemunduran disebabkan oleh sebagian penuturnya yang cenderung tidak lagi menggunakan bahasa itu.

Bahasa Banyumasan sendiri adalah kelompok bahasa Jawa yang digunakan di wilayah barat Jawa Tengah. Bahasa atau dialek Banyumasan juga memiliki kesamaan pada beberapa kosakata bahasa atau dialek yang dipakai di wilayah Banten utara serta daerah-daerah lainnya seperti Cirebon dan Indramayu. Ciri khas cablaka atau keterusterangan dalam bahasa Banyumasan merupakan pembeda dari bahasa Jawa lainnya.

Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan Jawa membagi kebudayaan Jawa menjadi tujuh wilayah, salah satunya adalah kebudayaan Banyumas yang meliputi wilayah eks-Karisidenan Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap serta Kebumen bagian barat. Masih menurut Koentjaraningrat, kebudayaan Banyumas adalah kebudayaan berbasis kerakyatan yang memiliki sifat egaliter, sederhana, penuh kesahajaan, dan berbasis pada pola kehidupan tradisional agraris (http://www.kompas.com/kompas/jateng/23/04/2006).

Wilayah penutur bahasa Banyumasan meliputi sebagian besar eks karisidenan Banyumas yang meliputi Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Purbalingga dan Banjarnegara, serta beberapa kawasan seperti Kebumen, Bumiayu, sebagian Pemalang, Pangandaran (Ciamis) dan Wonosobo. Bahasa Banyumas pun menghasilkan beberapa dialek yang memiliki ciri khas tersendiri seperti di Tegal dan daerah yang termasuk dalam wilayah Jawa Barat seperti Cirebon, Indramayu dan Cilegon (www.aksarajawa.com/28/02/2006).

Wikipedia mencatat ada empat sub-dialek utama dalam dialek Banyumasan, yaitu: (1) Wilayah utara atau disebut dialek Tegalan, dipakai di wilayah-wilayah seperti Tanjung, Ketanggungan, Larangan, Brebes, Slawi, Moga, Pemalang, Surodadi dan Tegal. (2) Wilayah Selatan dengan wilayah tutur antara lain Bumiayu, Karang Pucung, Cilacap, Nusakambangan, Kroya, Ajibarang, Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari, Banjarnegara, Purwareja, Kebumen serta Gombong. (3) Sub-dialek Cirebon-Indramayu, dituturkan di sekitar Cirebon, Jatibarang dan Indramayu, secara adminstratif wilayah ini termasuk dalam provinsi Jawa Barat. (4) Sub-dialek Banten utara, dengan wilayah tutur di Banten utara seperti Cilegon yang masuk dalam provinsi Banten (www.wikipedia.org/12/12/2005)

Dilihat dari sudut pandang sejarah, bahasa Banyumas merupakan logat bahasa Jawa tertua, bahkan beberapa sumber menyebutkan bahasa Banyumasan merupakan “keturunan” langsung bahasa Jawa kuno yang meninggalkan jejak sejarah yang penting seperti candi Borobudur dan Prambanan. Masyarakat pada jaman itu ditengarai menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa dan dialek Banyumasan, hal ini bisa dibuktikan melalui relief yang terdapat pada candi-candi tersebut (www.pikiranrakyat.com/17/10/2005).

Seperti yang dicatat oleh wikipedia.org (12/12/2005), bahwa beberapa kosakata dalam bahasa Banyumasan yang masih dipakai sampai saat ini yang merupakan kata dalam bahasa Kawi / Sansekerta, seperti contohnya rika atau kamu dalam bahasa Indonesia. Pengucapan vokal a utuh juga merupakan persamaan ciri lainnya dengan bahasa Kawi / Sansekerta. Sebelum adanya pengaruh dari keraton atau kerajaan, bahasa Jawa hampir tidak mengenal perbedaan bahasa krama inggil dan ngoko, baru setelah muncul kerajaan di tanah Jawa, bahasa Jawa mengalami proses pengahalusan yang sebenarnya lebih kepada pembedaan bahasa yang dipakai oleh kalangan kerajaan dan kalangan rakyat biasa.

Tohari (2002) salah satu budayawan asal Banyumas mengatakan bahwa tanpa adanya resolusi politik secara serius, dialek Banyumasan diambang kepunahan, dalam satu generasi selama belasan tahun mendatang sulit dijumpai dialek Banyumasan, pamornya sekarang mulai memudar dikalahkan oleh dialek Betawi dan arus global komunikasi yang sangat dominan. Ahmad Tohari juga menambahkan saat ini jarang dijumpai anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang diajarkan bahasa ibu, khususnya dialek Banyumasan oleh orang tuanya dengan dalih pendidikan dan tuntutan arus globalisasi, sehingga orang tua lebih menekankan komunikasi sehari-hari dengan bahasa nasional dalam hal ini bahasa Indonesia (www.pikiranrakyat.com/17/10/2005).

Melalui pernyataan Tohari tadi, kita bisa melihat bahwa kekhawatiran semakin ditinggalkannya bahasa atau dialek oleh para penuturnya sendiri memang bukan isapan jempol belaka, bahwa wong panginyongan yang usianya 40 sampai 50 tahun saja banyak yang sudah tidak berbicara bahasa Banyumasan, malahan anak-anak usia taman kanak-kanak sampai SMU sepertinya sudah tidak mengenal bahasanya sendiri, dan menurut penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini, kondisi demikian merupakan tanggungjawab para generasi tua yang kurang peduli terhadap kelestarian bahasa atau dialek Banyumasan.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting